15
Nov

senyum yg nyaris lenyapMasih ingat dengan pemilik rambut indah dan senyum yang nyaris lenyap dari bibir mungilnya, itulah Wulan Guritno artis Indonesia.
Dengan kesibukannya dalam dunianya, beliau masih menyempatkan diri berkomunikasi dan berinteraksi untuk semua fansnya melalui fasilitas internet dan komunitas virtual.

Jarak dan waktu seakan merintangi untuk bersilahturahmi, maka Wulan dengan nama aslinya Wulan Lorraine Guritno memutus halangan tersebut dengan menggunakan Blog sebagai tempat fasilitas berkomunikasi, dan kapanlagi.com merupakan tempat berlabuhnya sekarang dengan alamat wulanguritno.blog.kapanlagi.com
“Tidak semua orang seberuntung saya dapat kesempatan seperti ini”, itulah sekelumit ungkapan hati dari artis cantik ini.

Anda mau bertamu atau meminta sedikit keberuntungan mbak Wulan, silahkan ke wulanguritno.blog.kapanlagi.com

**Sampai detik ini saya masih belum bisa mendifinisikan senyum tersebut.

10
Nov

Ungu NgiyupPertunjukan konser musik “Simfoni untuk bangsa” di Tugu Pahlawan Surabaya akhirnya tidak sampai tuntas seperti apa yang direncanakan. Sungguh sangat disayangkan, sebab konser ini diharapkan mampu membangkitkan kembali semangat perjuangan dan mengobarkan nilai-nilai kepahlawanan di dalam jiwa masyarakat Surabaya khususnya.

Alam dan Hujan, itulah penyebab utama gagalnya konser Simfoni untuk bangsa.  Padahal rencana “Simfoni Untuk Bangsa” akan diisi band-band terkenal di negeri ini seperti Ungu, ST12, Andra & Backbone juga kelompok musik legendaris Koes Plus, dan acara akan diakhiri dengan pesta kembang api yang menurut informasi merupakan persembahan khusus untuk warga kota Surabaya.

Menjelang Band Ungu akan menampilkan lagu keduanya, hujan deras tiba-tiba mengguyur kota pahlawan, tak ayal panggung yang di desain tanpa atap dengan Background Tugu Pahlawan langsung basah. Para penonton langsung bubar termasuk penonton “Pejabat” VVIP.

Inilah Hujan dibatas kemarau yang menyejukkan hati warga Surabaya, meskipun tanpa senandungnya Koes Plus dan pesta kembang api.

NB:  Panitianya lupa bawa pawang hujan.

08
Nov

Banyak warga yang mendukung dan sedikit yang tidak setuju, dalam menjatuhkan hukuman bagi trio bom bali tersebut.  Ketiga pengebom bali tersebut adalah Imam Samudra, Mukhlas dan Amrozi, dijatuhi hukuman mati pada tahun 2003 akan tetapi eksekusi hukuman beberapa kali ditunda karena rangkaian gugatan mereka ke Mahkamah Konstitusi. Sangat panjang dan melelahkan untuk memproses hukuman mati di negara ini, butuh waktu juga argument agar hukuman mati layak di lakukan.

Desakan untuk secepatnya mengeksekusi trio bomber Bali Blast tidak hanya datang dari dalam negeri tetapi masyarakat luar negeri sangat menginginkan hukuman tersebut dilakukan dan bahkan warga dari dunia maya juga dunia gaib banyak yang mendukung eksekusi mati. Perasaan gemas bagi warga korban bom bali selalu terjadi dan mungkin para korban yang sudah meninggal akan membuat perhitungan dan menantikan di dunia gaib. Waited in ground zero.

Ada pepatah, utang uang dibayar dengan uang, utang nyawa dibayar dengan nyawa. Untuk itulah jangan berhutang nyawa sebab nyawa harganya amat mahal.